0 komentar

Riwayat Pendidikan

Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.


Sekolah Dasar ( SD ),
Tahun 1974 s/d Tahun 1979, Sekolah Dasar Swasta Sejati, Tanjung Pinang, Jambi Timur,  Kotamadya Jambi, Tamat berijazah. Kepala Sekolah waktu itu Bapak Abdul Latif.

Sekolah Menengah Pertama ( SMP ),
Tahun 1980 s/d Tahun 1982, Sekolah Menengah Pertama Negeri 01 Teladan, di Kotamadya Jambi Depan Rumah Sakit DKT, Pasar Jambi, tamat berijazah. Kepala Sekolah Waktu itu Ny. Alidar Wahid Hamzah, BA

Sekolah Menengah Atas ( SMA )
Tahun 1982 s/d Tahun 1985, Sekolah Menengah Atas Negeri 2, di Kotamadya Jambi Talang Banjar, tamat berijazah, pernah menjabat sebagai Ketua OSIS, Kepala Sekolah pada waktu itu Bapak Baharuddin Kasib, SH dan Bapak Irfan, BA

Perguruan Tinggi dan Universitas,
Pernah Kuliah di Institut Agama Islam Negeri, Sulthan Taha Syaifuddin ( IAIN STS ) Jambi dari Tahun 1985 s/d Tahun 1990 di Fakultas Syari,ah (Hukum Agama Islam) , Jurusan Peradilan Agama Islam, dari Semester I sampai Semester V, Dekan pada saat itu Bapak Drs Adnan Rusli dan Rektornya Bapak Profesor Dr. M uhammad Chtib Quzwan, Lokasi Sipin Jambi.
0 komentar

Musik Rebana Qasidah

Alat musik Rebana
1 set alat musik Qasidah terdiri dari :
    3 rebana kotek
    1 rebana selo
    3 rebana bass (bass 1, bass 2 bass 3)
    2 Tamborin
    1 tamtam.

Sejarah Qasidah
Seni qasidah lahir bersamaan dengan kelahiran Islam. Untuk pertama kalinya, qasidah ditampilkan oleh kaum Anshar (penolong Nabi Muhammad saw. dan sahabat­-sahabatnya dari kaum Muhajirin dalam perjalanan hijrah dari tanah kelahirannya (Makkah) ke Yatsrib (Madinah). Pada saat itu beberapa kaum Anshar menyambut kedatangan Nabi dan mendendangkan lagu-lagu pujian diiringi dengan lantunan musik rebana. Lagu-lagu pujian saat itu pun melegenda hingga hari ini sebagai lagu klasik dan masih dapat dinikmati hingga sekarang. Sebagai contoh dari lagu-lagu pujian itu adalah sebagai berikut:

Ya Nabi, keselamatan untukmu
Ya Rasul, keseamatan untukmu
Ya Kekasih, keselamatan untukmu

Pengertian Qasidah
Pengertian kasidah yang terdapat dalam khazanah kesusasteraan Indonesia mirip dengan kasidah yang ada dalam sastra Arab. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) dikatakan bahwa kasidah merupakan “bentuk puisi, berasal dari kesusateraan Arab, bersifat pujian (satire, keagamaan), biasanya dinyanyikan (dilagukan)” (Tim Penyusun Kamus, 1988:493). Meskipun demikian, istilah tersebut berbeda dengan istilah yang sama yang terdapat dalam ungkapan “lagu kasidah” yang umumnya berbahasa Indonesia.

Istilah kasidah menurut Ma’luf dan Cowan dalam Syihabuddin (1997:16) berasal dari kata qasada yang salah satu bentuk infinitifnya ialah qasid atau qasidah dan berarti ‘dimaksudkan’, ‘disengaja’, dan ‘ditujukan kepada sesuatu’. Al-Hasyimi (t.t) dalam Syihabuddin (1997:16) mengungkapkan bahwa qasidah ialah syair yang larik-larik baitnya sempurna. Sebuah sya’ir disebut kasidah karena kesempurnaannya dan kesahihan wazannya, karena pengungkapnya menjadikannya sebagia hiburan, menghiasinya dengan kata-kata yang baik dan terpilih; karena kasidah itu diungkapkan dari hatinya dan perasaannya, bukan dari penalarannya semata.

Pemain Qasidah
Pemain Qasidah sedikitnya ada 8 orang yaitu :
3 orang sebagai pemain rebana kecil yang berfungsi sebagai melodi atau pengatur lagu.
4 orang sebagai pemain pemegang rebana besar : dari ukuran rebana ke-4 hingga ke-7 ukurannya bertambah besar, sehingga rebana ke-7 merupakan yang paling besar. 
1 orang pembawa alat musik kecrek/tamborin  yang bertugas mengiringi tabuhan ke-7 rebana tersebut.

Rebana besar ini adalah sebagai pengiring lagu. Dan dapat pula ditambah dengan alatseni lainnya tergantung pada senimannya itu sendiri. Adapun penyanyi bisa secara khusus sebagai penyanyi yang tidak memegang rebana, atau bisa pula para pemegang rebana Namun pada umumnya penyanyi adalah pemegang ke-3 rebana kecil. Dan dalam penampilannya ke-7 seniman qasidah ini biasanya mereka dituntut untuk dapat bernyanyi toor. Sedangkan penabuh kecrek biasanya tidak tampil sebagai penyanyi tunggal,tugasnya hanyalah menyelaraskan irama tabuhan rebana dengan kecrek saja.
 
;